Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena
kebutaannya itu.
Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia
juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani
dan menghiburnya.
Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika
dia bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan
sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk
kekasihnya.
Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa
melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"
Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya
ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.
Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan
kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong
jaga baik-baik mata saya."
* * * * *
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran
manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah.
Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan
hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat
terhadap siapa harus berterima kasih karena telah
menyertai dan menopang bahkan di saat yang
paling menyakitkan. Hidup adalah anugerah.
Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan
kata-kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak
bisa berbicara. Sebelum engkau mengeluh mengenai
cita rasa makananmu,
Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun
untuk dimakan.
Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau
isterimu
Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan
meminta pasangan hidup.
Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu
Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.
Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu
Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak,
tetapi tidak mendapatnya.
Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang
kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai..
Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di
jalanan.
Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu
jauh
Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki
untuk menempuh jarak yang sama.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang
pekerjaanmu
Ingatlah akan para pengangguran, orang cacat dan
mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang
lain
Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak
berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan
menjatuhkanmu
Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima
kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah,
rayakan dan isilah itu.
NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA
MUNGKIN ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI!!!
Wednesday, May 26, 2010
artikel 26-5 3
Batu kecil
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat atas tembok yang sangat
tinggi. Pada suatu saat ia hanya menyampaikan pesan penting kepada teman
kerja yang ada dibawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya
tidak bisa mendengar karena suara bising dari mesin-mesin dan
orang-orang yang bekerja sehingga usahanya sia-sia belaka.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya, ia
mencoba melemparkan uang logam didepan temannya. Temannya berhenti
bekerja, mengambil uang itu dan lalu bekerja kembali. Pekerja itu
mencoba lagi, tetapi usaha yang keduanya pun memperoleh hasil yang sama.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya
ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena
merasa sakit, temannya menengadah keatas, sekarang pekerja itu dapat
menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita
menengadah keatas kepada-Nya. Seringkali tuhan melimpahi kita dengan
rahmat, tetapi tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.
Karena itu, agar kita selalu mengingat kepada-Nya, tuhan sering
menjatuhkan "Batu Kecil" kepada kita.
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat atas tembok yang sangat
tinggi. Pada suatu saat ia hanya menyampaikan pesan penting kepada teman
kerja yang ada dibawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya
tidak bisa mendengar karena suara bising dari mesin-mesin dan
orang-orang yang bekerja sehingga usahanya sia-sia belaka.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya, ia
mencoba melemparkan uang logam didepan temannya. Temannya berhenti
bekerja, mengambil uang itu dan lalu bekerja kembali. Pekerja itu
mencoba lagi, tetapi usaha yang keduanya pun memperoleh hasil yang sama.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya
ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena
merasa sakit, temannya menengadah keatas, sekarang pekerja itu dapat
menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita
menengadah keatas kepada-Nya. Seringkali tuhan melimpahi kita dengan
rahmat, tetapi tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.
Karena itu, agar kita selalu mengingat kepada-Nya, tuhan sering
menjatuhkan "Batu Kecil" kepada kita.
artikel 26-5 2
Jangan Pernah Menertawakan Pria China
Seorang pria China pergi ke suatu bank di New York City dan berniat
untuk meminjam uang sebesar $5000 untuk perjalanan bisnis ke China
selama 2 minggu. Si pegawai mengatakan bahwa bank tersebut membutuhkan
suatu jaminan untuk pinjaman tsbut, dan kemudian si pria China memakai
mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan.
Kemudian pegawai bank setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah
pria China tersebut pergi, pemimpin dan pegawai2 bank tersebut
menertawainya karena menggunakan mobil Ferrari baru seharga $250.000
sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar $5000.
Seorang pegawai bank kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke
dalam underground garage milik bank tersebut. 2 minggu kemudian, pria
China tersebut kembali, dan membayar hutang sebesar $5000 dan bunganya
sebesar $15.41 Pegawai bank berkata, 'Tuan, kami sangat senang bisa
berbisnis dengan anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar,
tetapi kami sedikit bingung. Ketika anda pergi, kami mengecek anda dan
mengetahui bahwa anda adalah seorang jutawan.
Mengapa anda repot2 meminjam uang sebesar $5000?' si pria China
membalas sambil tersenyum, "Dimana lagi tempat di New York City yang
bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan
harga $15.41, selama 2 minggu"
Seorang pria China pergi ke suatu bank di New York City dan berniat
untuk meminjam uang sebesar $5000 untuk perjalanan bisnis ke China
selama 2 minggu. Si pegawai mengatakan bahwa bank tersebut membutuhkan
suatu jaminan untuk pinjaman tsbut, dan kemudian si pria China memakai
mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan.
Kemudian pegawai bank setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah
pria China tersebut pergi, pemimpin dan pegawai2 bank tersebut
menertawainya karena menggunakan mobil Ferrari baru seharga $250.000
sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar $5000.
Seorang pegawai bank kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke
dalam underground garage milik bank tersebut. 2 minggu kemudian, pria
China tersebut kembali, dan membayar hutang sebesar $5000 dan bunganya
sebesar $15.41 Pegawai bank berkata, 'Tuan, kami sangat senang bisa
berbisnis dengan anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar,
tetapi kami sedikit bingung. Ketika anda pergi, kami mengecek anda dan
mengetahui bahwa anda adalah seorang jutawan.
Mengapa anda repot2 meminjam uang sebesar $5000?' si pria China
membalas sambil tersenyum, "Dimana lagi tempat di New York City yang
bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan
harga $15.41, selama 2 minggu"
artikel 26-5
Berat segelas air
Pada saat memberikan kuliah tentang
Manajemen Stress, Stephen Covey
mengangkat segelas air dan bertanya
kepada para siswanya:
"Seberapa berat menurut anda kira-
kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama
anda memegangnya," kata
Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya
memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya
memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan
ambulans untuk saya.
Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka
bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus
menerus, lambat laun kita tidak akan
mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya," lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah
meletakkan gelas tersebut, istirahat
sejenak sebelum mengangkatnya lagi.
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodic, agar kita dapat lebih
segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari
pekerjaan sore ini, tinggalkan
beban tersebut."
"Bukan beban berat yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita
memikul beban tersebut."
[martoniuz]
Pada saat memberikan kuliah tentang
Manajemen Stress, Stephen Covey
mengangkat segelas air dan bertanya
kepada para siswanya:
"Seberapa berat menurut anda kira-
kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama
anda memegangnya," kata
Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya
memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya
memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan
ambulans untuk saya.
Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka
bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus
menerus, lambat laun kita tidak akan
mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya," lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah
meletakkan gelas tersebut, istirahat
sejenak sebelum mengangkatnya lagi.
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodic, agar kita dapat lebih
segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari
pekerjaan sore ini, tinggalkan
beban tersebut."
"Bukan beban berat yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita
memikul beban tersebut."
[martoniuz]
artikel tentang obesitas
OBESITY TIED TO
MEMORY LOSS
By Rick
Nauert PhDSenior News Editor
Reviewed by John M. Grohol, Psy.D. on August 26, 2009
Obesity has become a significant
health crisis: More than 300 million people worldwide are considered obese and
more than a billion people are classified as overweight.
Obesity is associated with the
development of illnesses including cardiovascular disease, Type II diabetes,
and hypertension. New research suggests the ill effects of obesity may not stop
with these physical maladies, however; mental health may be affected as well.
In the current online edition of the
journal Human Brain Mapping, Paul Thompson, senior author and a UCLA
professor of neurology, and lead author Cyrus A. Raji, a medical student at the
University of Pittsburgh School of Medicine, and colleagues compared the brains
of people who were obese, overweight, and of normal weight, to see if they had
differences in brain structure.
They found that obese people had 8
percent less brain tissue than normal-weight people, while overweight people
had 4 percent less tissue. According to Thompson, who is also a member of
UCLA’s Laboratory of Neuro Imaging, this is the first time anyone has
established a link between being overweight and having what he describes as
“severe brain degeneration.”
“That’s a big loss of tissue and it
depletes your cognitive reserves, putting you at much greater risk of
Alzheimer’s and other diseases that attack the brain,” said Thompson. “But you
can greatly reduce your risk for Alzheimer’s, if you can eat healthily and keep
your weight under control.”
The researchers used brain images
from an earlier study called the Cardiovascular Health Study Cognition Study.
Scans were selected of 94 elderly people in their 70s who were
healthy—not cognitively
impaired—five years after the scan was taken.
To define the weight categories,
they used the Body Mass Index (BMI), the most widely used measurement for
obesity. Normal weight people were defined as having a BMI between 18.5-25;
overweight people between 25-30, and obese people greater than 30.
The researchers then converted the
scans into detailed three-dimensional images using tensor-based morphometry, a
neuroimaging method that offers high resolution mapping of anatomical
differences in the brain.
In looking at both gray matter and
white matter of the brain, they found that the people defined as obese had lost
brain tissue in the frontal and temporal lobes, areas of the brain
critical for planning and memory, and in the anterior cingulate gyrus
(attention and
executive functions), hippocampus (long-term memory) and basal ganglia
(movement).
Overweight people showed brain loss
in the basal ganglia, the corona radiata, white matter comprised of axons, and
the parietal lobe (sensory lobe).
“The brains of obese people looked
16 years older than the brains of those who were lean, and in overweight people
looked eight years older,” says Thompson.
“It seems that along with increased
risk for health problems such as type 2 diabetes and heart disease, obesity is
bad for your brain: we have linked it to shrinkage of brain areas that are also
targeted by Alzheimer’s,” said Pittsburgh’s Raji.
“But that could mean exercising,
eating right and keeping weight under control can maintain brain health with
aging and potentially lower the risk for Alzheimer’s and other dementias.”
Source: UCLA
MEMORY LOSS
By Rick
Nauert PhDSenior News Editor
Reviewed by John M. Grohol, Psy.D. on August 26, 2009
Obesity has become a significant
health crisis: More than 300 million people worldwide are considered obese and
more than a billion people are classified as overweight.
Obesity is associated with the
development of illnesses including cardiovascular disease, Type II diabetes,
and hypertension. New research suggests the ill effects of obesity may not stop
with these physical maladies, however; mental health may be affected as well.
In the current online edition of the
journal Human Brain Mapping, Paul Thompson, senior author and a UCLA
professor of neurology, and lead author Cyrus A. Raji, a medical student at the
University of Pittsburgh School of Medicine, and colleagues compared the brains
of people who were obese, overweight, and of normal weight, to see if they had
differences in brain structure.
They found that obese people had 8
percent less brain tissue than normal-weight people, while overweight people
had 4 percent less tissue. According to Thompson, who is also a member of
UCLA’s Laboratory of Neuro Imaging, this is the first time anyone has
established a link between being overweight and having what he describes as
“severe brain degeneration.”
“That’s a big loss of tissue and it
depletes your cognitive reserves, putting you at much greater risk of
Alzheimer’s and other diseases that attack the brain,” said Thompson. “But you
can greatly reduce your risk for Alzheimer’s, if you can eat healthily and keep
your weight under control.”
The researchers used brain images
from an earlier study called the Cardiovascular Health Study Cognition Study.
Scans were selected of 94 elderly people in their 70s who were
healthy—not cognitively
impaired—five years after the scan was taken.
To define the weight categories,
they used the Body Mass Index (BMI), the most widely used measurement for
obesity. Normal weight people were defined as having a BMI between 18.5-25;
overweight people between 25-30, and obese people greater than 30.
The researchers then converted the
scans into detailed three-dimensional images using tensor-based morphometry, a
neuroimaging method that offers high resolution mapping of anatomical
differences in the brain.
In looking at both gray matter and
white matter of the brain, they found that the people defined as obese had lost
brain tissue in the frontal and temporal lobes, areas of the brain
critical for planning and memory, and in the anterior cingulate gyrus
(attention and
executive functions), hippocampus (long-term memory) and basal ganglia
(movement).
Overweight people showed brain loss
in the basal ganglia, the corona radiata, white matter comprised of axons, and
the parietal lobe (sensory lobe).
“The brains of obese people looked
16 years older than the brains of those who were lean, and in overweight people
looked eight years older,” says Thompson.
“It seems that along with increased
risk for health problems such as type 2 diabetes and heart disease, obesity is
bad for your brain: we have linked it to shrinkage of brain areas that are also
targeted by Alzheimer’s,” said Pittsburgh’s Raji.
“But that could mean exercising,
eating right and keeping weight under control can maintain brain health with
aging and potentially lower the risk for Alzheimer’s and other dementias.”
Source: UCLA
khl gibran tentang seorang anak
Dan seorang wanita yang mendekap anaknya berkata : "Bicaralah pada kami
perihal anak-anak". Maka orang bijak itupun bicara : "Puteramu adalah bukan
puteramu. Mereka adalah putera-puteri kehidupan yang mendambakan hidup
mereka sendiri. Mereka datang melalui kamu tapi tidak dari kamu. Dan
sungguhpun bersamamu, mereka bukanlah milikmu. Engkau dapat memberikan kasih
sayangmu tapi tidaklah pendirianmu, sebab mereka memiliki pendirian sendiri.
Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya, tapi tidak bagi jiwanya.
Lantaran jiwa mereka àϑá di masa datang, yang tidak bisa engkau capai
sekalipun dalam mimpi. Engkau boleh berusaha mengikuti alam mereka, tapi
jangan harap mereka dapat mengikuti alammu, sebab hidup tidaklah surut
kebelakang, tidak pula terlambat di masa lalu. Engkau adalah busur dari mana
bagai anak panah kehidupan putera-puterimu melesat kemasa depan"..
(khl gibran, 1883-1931)
perihal anak-anak". Maka orang bijak itupun bicara : "Puteramu adalah bukan
puteramu. Mereka adalah putera-puteri kehidupan yang mendambakan hidup
mereka sendiri. Mereka datang melalui kamu tapi tidak dari kamu. Dan
sungguhpun bersamamu, mereka bukanlah milikmu. Engkau dapat memberikan kasih
sayangmu tapi tidaklah pendirianmu, sebab mereka memiliki pendirian sendiri.
Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya, tapi tidak bagi jiwanya.
Lantaran jiwa mereka àϑá di masa datang, yang tidak bisa engkau capai
sekalipun dalam mimpi. Engkau boleh berusaha mengikuti alam mereka, tapi
jangan harap mereka dapat mengikuti alammu, sebab hidup tidaklah surut
kebelakang, tidak pula terlambat di masa lalu. Engkau adalah busur dari mana
bagai anak panah kehidupan putera-puterimu melesat kemasa depan"..
(khl gibran, 1883-1931)
artikel yang bagus, perlu dikoleksi
"Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan ... !!!
~ Sumber: Ditulis oleh Lesminingtyas ~
Sebagai bahan perenungan bagi para ORANG TUA... Tahun yang lalu saya harus
mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika,
duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan
wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan
kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan
anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang
bermasalah.
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung
dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.
Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan
kepada Dika, "Apa yang kamu inginkan ?"
Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan
wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah
sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta
bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk
menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi
soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, psikolog yang tampil
bersahaja namun penuh keramahan itu segera member ita hukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Adasatu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari
115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan
yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih
lanjut. Oleh sebab Itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk
mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi.
Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. Suatu sore, saya
menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test
kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya
psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu
atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa
membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya
berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku : ..........",
Dikapun menjawab: "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya
berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya
merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain
puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cer ita
, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya. Waktu itu saya
berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang
tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan
mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan
jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika
hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin ayahku
............ ..", Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun
kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia
menuntutku melakukan sesuatu".
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa
yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi
kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus
dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang
habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal
seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
Ketika psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ............ .
..", maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya". Dalam banyak hal
saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,disiplin,
hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya in ginkan itu merupakan sikap
yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika
persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali
ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri k ita atau bahkan beranggapan
bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak ............
.", Dika pun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa".
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan
jujur.
Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang
telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan
untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya
anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa
belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang
salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu
mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.
Ketika psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang
............ .. ...", Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang
penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan
kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas
hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan P R
yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting,
bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang
polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting
dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak
kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ............ ..........
...", Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling
hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui
kesalahannya dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua
berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan.
Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau
mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti
apa yang diajarkan orang tua kepadanya.
Ketika psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari........ ",
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk
adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi
saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari
bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali
oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih
kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari........
........", Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan
satu kata "tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah
merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal
kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan
wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak
dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap
hari.
Ketika psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku. ...", Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan
nama yang bagus". Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah
memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi
Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggi lnya dengan
sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang"
yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata "Tole". Waktu itu saya
merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan
sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.
Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku ....", Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena
sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan
logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang s ayur keliling" kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak
Sedunia.
Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child
Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan
bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan Tanpa saya
sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan
panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam
senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua
kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak
"Pesan Yang Tak Terucapkan".
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak
yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan
untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh
membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya.
~ Sumber: Ditulis oleh Lesminingtyas ~
Sebagai bahan perenungan bagi para ORANG TUA... Tahun yang lalu saya harus
mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika,
duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan
wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan
kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan
anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang
bermasalah.
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung
dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.
Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan
kepada Dika, "Apa yang kamu inginkan ?"
Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan
wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah
sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta
bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk
menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi
soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, psikolog yang tampil
bersahaja namun penuh keramahan itu segera member ita hukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Adasatu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari
115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan
yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih
lanjut. Oleh sebab Itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk
mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi.
Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. Suatu sore, saya
menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test
kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya
psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu
atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa
membaca jeritan hati kecil Dika.
Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya
berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku : ..........",
Dikapun menjawab: "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya
berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya
merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain
puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cer ita
, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya. Waktu itu saya
berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang
tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan
mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan
jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika
hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin ayahku
............ ..", Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun
kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia
menuntutku melakukan sesuatu".
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa
yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi
kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus
dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang
habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal
seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
Ketika psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ............ .
..", maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya". Dalam banyak hal
saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,disiplin,
hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya in ginkan itu merupakan sikap
yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika
persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali
ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri k ita atau bahkan beranggapan
bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak ............
.", Dika pun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa".
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan
jujur.
Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang
telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan
untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya
anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa
belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang
salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu
mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.
Ketika psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang
............ .. ...", Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang
penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan
kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas
hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan P R
yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting,
bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang
polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting
dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak
kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ............ ..........
...", Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling
hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui
kesalahannya dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua
berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan.
Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau
mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti
apa yang diajarkan orang tua kepadanya.
Ketika psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari........ ",
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk
adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi
saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari
bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali
oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih
kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari........
........", Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan
satu kata "tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah
merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal
kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan
wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak
dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap
hari.
Ketika psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku. ...", Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan
nama yang bagus". Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah
memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi
Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggi lnya dengan
sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang"
yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata "Tole". Waktu itu saya
merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan
sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.
Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku ....", Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena
sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan
logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang s ayur keliling" kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak
Sedunia.
Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child
Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan
bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan Tanpa saya
sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan
panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam
senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua
kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak
"Pesan Yang Tak Terucapkan".
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak
yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan
untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh
membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)